Malang, 12 Juli 2026 – Seiring semakin dekatnya teknologi digital dengan kehidupan sehari-hari, tantangan orang tua dalam mendampingi anak menggunakan gawai dan bermain gim juga semakin besar. Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) melalui Direktorat Pengembangan Ekosistem Digital bersama Indonesia Game Rating System (IGRS) kembali menghadirkan Gim Talks DARA (Digital Addiction Response Assistance), kali ini di Kota Malang, dengan mengusung tema “Main Gim Tetap Aman, Keluarga Jadi Nyaman.”
Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian roadshow Gim Talks DARA 2026 ini diselenggarakan di Malang Creative Center (MCC). Malang Creative Center sendiri merupakan salah satu Garuda Spark Innovation Hub Kemkomdigi yang menjadi ruang kolaborasi dan pengembangan talenta digital. Tidak hanya menghadirkan seminar edukatif, kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi antara pemerintah, tenaga kesehatan, psikolog, pelaku industri gim, komunitas, serta keluarga untuk membangun ekosistem digital yang sehat, inklusif, dan ramah anak.
Dalam sambutannya, Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Kemkomdigi, Dr. Sonny Hendra Sudaryana, S.T., M.MT, menegaskan bahwa gim telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern, khususnya anak dan remaja. Menurutnya, gim memiliki banyak manfaat, mulai dari sarana hiburan, pembelajaran, hingga melatih kreativitas dan kemampuan berpikir strategis. Namun, tanpa pendampingan yang tepat, penggunaan gim yang berlebihan juga berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti gangguan kesehatan mental, penurunan prestasi belajar, berkurangnya interaksi sosial, hingga risiko adiksi.
Sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam menciptakan ekosistem bermain gim yang sehat, Kemkomdigi telah mengembangkan Indonesia Game Rating System (IGRS) sebagai sistem klasifikasi gim berdasarkan kelompok usia dan muatan konten. Inisiatif tersebut kemudian diperkuat melalui pengembangan Digital Addiction Response Assistance (DARA) bekerja sama dengan Riliv, yang menyediakan layanan edukasi, asesmen awal, konsultasi, hingga pendampingan bagi keluarga dalam mengenali dan menangani risiko adiksi gim sejak dini.
Ketua Tim Pengembangan Ekosistem Gim Kemkomdigi, Tita Ayuditya Surya, menjelaskan bahwa Program DARA menghadirkan berbagai layanan yang mudah diakses masyarakat, mulai dari modul edukasi, konsultasi melalui WhatsApp, hingga pendampingan oleh konselor profesional. Melalui layanan tersebut, DARA diharapkan dapat membantu orang tua memahami pola penggunaan gim anak sekaligus membangun kebiasaan digital yang lebih sehat dan seimbang guna meningkatkan digital wellbeing masyarakat Indonesia.
Untuk memberikan perspektif yang komprehensif, GimTalks DARA Malang menghadirkan narasumber dari berbagai bidang, antara lain perwakilan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), perwakilan Kementerian Kesehatan, psikolog dari Rangkul Malang, serta pelaku industri gim dari Letsplay Indonesia.
Dalam sesi diskusi, Rr. Endah Sri Rejeki, SE, MIDEA, PhD selaku Asisten Deputi Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Pemenuhan Hak Anak Wilayah III, menyoroti pentingnya penguatan peran keluarga dalam melindungi anak di ruang digital serta memperkenalkan layanan pendampingan seperti SAPA 129 dan PUSPAGA.

Sementara itu, menambahkan dalam lingkup bahasan yang sama, dr. Imran Pambudi, MPHM selaku Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap tanda-tanda awal gangguan kesehatan mental akibat penggunaan gim secara berlebihan, sekaligus memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia apabila diperlukan. Menurut KemenPPPA, dibutuhkan kolaborasi aktif antara pemerintah, keluarga, sekolah, dan komunitas, salah satunya dengan adanya program DARA ini.
Dari sisi psikologi, turut hadir Fitria Fatmawati, M.PSI., dari Psikolog Rangkul Malang. Beliau menjelaskan kepada peserta bahwa pemahaman mengenai perbedaan antara aktivitas bermain gim yang sehat dengan perilaku yang mengarah pada adiksi. Banyak orang tua khawatir anaknya terlalu sering bermain gim. Orang tua juga dibekali berbagai strategi membangun komunikasi yang positif dengan anak mengenai penggunaan gawai dan gim di lingkungan keluarga.
Perspektif dari industri gim yang diwakilkan oleh Arif Bawono Surya, Co-Founder Letsplay Indonesia, turut melengkapi diskusi melalui paparan yang menegaskan bahwa gim tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga dapat membuka peluang pengembangan kreativitas, keterampilan, hingga profesi di masa depan. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, keluarga, dan pengembang gim menjadi kunci untuk memastikan anak memperoleh pengalaman bermain yang aman, sesuai usia, dan mendukung proses tumbuh kembangnya. Sebagai pengembang gim, studio gim juga harus memastikan bahwa gim yang dikembangkan tidak hanya menghibur, tetapi juga aman dan sesuai dengan usia serta kebutuhan tumbuh kembang anak
Tidak hanya diperuntukkan bagi orang tua, GimTalks DARA Malang juga menghadirkan aktivitas khusus bagi anak-anak. Selama orang tua mengikuti sesi talkshow, anak-anak mengikuti berbagai permainan interaktif yang difasilitasi Tim Rangkul KeluargaKita di ruang terpisah. Kegiatan tersebut dirancang untuk mendorong interaksi sosial, kerja sama, serta aktivitas fisik sebagai upaya membangun keseimbangan antara aktivitas digital dan kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan sesi anak turut didukung oleh ParagonCorp sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung tumbuh kembang anak dan keluarga Indonesia.
Melalui penyelenggaraan GimTalks DARA di Malang, Kemkomdigi berharap semakin banyak keluarga Indonesia memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya pengasuhan digital, mampu mendampingi anak menggunakan teknologi secara bijak, serta membangun budaya bermain gim yang sehat, aman, dan bertanggung jawab. Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas sektor memiliki peran penting dalam menciptakan ruang digital yang aman, sehat, inklusif, dan ramah bagi seluruh anak Indonesia.
