Komunitas Game Developer Malang (GDM) kembali menghadirkan acara yang mempertemukan developer lokal dengan pelaku industri game nasional. Melalui acara MBG: Mengobrol Dengan Garena yang digelar di Nakoa Cafe, Malang, pada 8 Juni 2026, sebanyak 56 game developer mendapatkan kesempatan berdiskusi langsung dengan salah satu publisher game terbesar di Indonesia, Garena.
Selama kurang lebih tiga jam, para peserta membahas berbagai topik, mulai dari proses publishing, pitching game, hingga peluang yang dimiliki developer daerah untuk menembus pasar yang lebih luas. Acara ini juga menjadi momentum penting karena Garena memilih Malang sebagai kota pertama untuk berinteraksi langsung dengan komunitas game developer lokal.
Garena Apresiasi Ekosistem Game Malang
Dalam sesi diskusi, perwakilan Garena, Hans dan Dharmawan, menyampaikan apresiasi terhadap perkembangan ekosistem game di Malang. Menurut Hans, kunjungan ini menjadi bagian dari upaya Garena untuk mengenal lebih dekat komunitas dan studio yang berkembang di kota tersebut.
“Kota Malang ini kebetulan kota yang pertama kita kunjungi. Kita ingin kenalan juga dengan developer di Malang, belajar juga nih gimana dengan industri game di sini,” ujar Hans.
Pilihan Garena untuk mengunjungi Malang menunjukkan bahwa industri game nasional semakin memperhatikan potensi yang dimiliki kota ini. Selain memiliki banyak studio independen, Malang juga dikenal aktif melahirkan talenta-talenta baru melalui komunitas dan berbagai kegiatan pengembangan game.
GDM Aktif Mendorong Talenta Lokal

Sementara itu, Dharmawan menjelaskan bahwa Garena secara rutin memantau perkembangan industri game lokal di berbagai daerah. Menurutnya, GDM aktif menemukan developer berbakat dan memperkenalkan berbagai game potensial yang belum banyak mendapat sorotan di tingkat nasional.
“Kami dari Garena memang selalu mengamati ekosistem studio lokal. Kami melihat GDM sebagai salah satu komunitas yang lumayan aktif dalam menemukan talenta dan game potensial yang selama ini belum sepenuhnya terakomodasi di event-event skala nasional,” kata Dharmawan.
Ia juga menambahkan bahwa game berkualitas tidak selalu lahir dari kota-kota besar. Banyak developer daerah memiliki ide dan kemampuan yang kuat. Namun, mereka sering menghadapi kendala visibilitas sehingga sulit menjangkau audiens yang lebih luas.
Pitch Deck Penting, Tapi Demo Game Lebih Utama
Salah satu sesi yang paling menarik adalah ketika peserta menanyakan hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum melakukan pitching kepada publisher seperti Garena.
Menjawab pertanyaan tersebut, Garena menegaskan bahwa mereka lebih mengutamakan demo build atau vertical slice dibandingkan sekadar pitch deck. Menurut mereka, kualitas game akan lebih mudah dinilai melalui pengalaman bermain secara langsung.
Gameplay, kontrol, dan eksekusi desain menjadi faktor yang sangat penting dalam proses evaluasi. Oleh karena itu, Garena mendorong developer untuk fokus membangun prototipe yang kuat sebelum menghubungi publisher.
Selain itu, Garena juga menyarankan agar developer menyertakan informasi mengenai keunggulan produk serta profil tim yang mengembangkan game tersebut. Informasi tersebut membantu publisher memahami visi dan potensi proyek secara lebih menyeluruh.
Jangan Terlalu Terjebak Mengejar Tren
Dalam sesi yang sama, Garena juga membagikan pandangan menarik mengenai tren industri game. Dharmawan menilai banyak developer yang terlalu fokus mengejar genre atau konsep yang sedang populer di pasar.
Menurutnya, pendekatan tersebut tidak selalu menghasilkan produk yang lebih baik. Sebaliknya, developer sebaiknya mengembangkan game yang benar-benar mereka pahami dan sukai.
“Daripada teman-teman secara buta mengikuti tren, mending teman-teman membuat game yang teman-teman suka,” ujar Dharmawan.
Ia menjelaskan bahwa tren industri dapat berubah dengan cepat. Ketika sebuah tim terlalu fokus mengejar tren tertentu, mereka berisiko kehilangan arah ketika pasar mulai bergeser ke genre lain. Karena itu, membangun game dengan identitas yang kuat sering kali menjadi pilihan yang lebih bijak.
Developer Malang Sudah Masuk Radar Industri Nasional
Melihat antusiasme peserta yang tinggi, Ketua GDM, Ricky, mengingatkan para developer bahwa ekosistem game Malang saat ini sudah mendapatkan perhatian dari industri nasional. Menurutnya, kehadiran Garena menjadi bukti bahwa pelaku industri nasional mulai melirik karya dan talenta dari Malang.
Karena itu, ia mendorong para anggota komunitas untuk lebih aktif mengembangkan proyek dan memperkenalkan karya mereka kepada publik.
“Sebetulnya kita di Malang ini sudah masuk ke dalam radar industri nasional. Jadi, kalian harus bisa lebih gercep mengembangkan game atau menunjukkan karya yang sedang kita kerjakan,” ujar Ricky.
Ia juga menyoroti pentingnya konsistensi dalam pengembangan game. Menurutnya, developer Malang memiliki potensi besar, tetapi mereka perlu bergerak lebih cepat agar mampu memanfaatkan peluang yang mulai bermunculan.
Sembilan Studio Tampilkan Karya Mereka
Panitia kemudian menggelar sesi showcase yang memberikan kesempatan kepada developer untuk memperkenalkan game mereka secara langsung kepada peserta dan perwakilan Garena.
Sebanyak sembilan studio dan developer menampilkan karya yang sedang mereka kembangkan. Clay Game Studio memamerkan Mirth Island, sementara Mocchi Mitten memperkenalkan mocchimitten dan Calico Cream. Selain itu, Vincent Dgoat sebagai solo developer menampilkan Susanoo, Nilawarsa memperkenalkan Omah Batik, dan Ariverse membawa MiniMate: Puzzle Chess serta Nightwatch at the Museum.
Sementara itu, Rainy’s Team memamerkan Rainy’s Episode, Play Castle Studio memperkenalkan Delivery Boss, Roukie Studio menampilkan Poppulse, dan Hanif Furqan sebagai solo developer membawa Pastir the Shepherd.
Melalui kegiatan ini, GDM kembali menunjukkan perannya sebagai penghubung antara developer daerah dan pelaku industri nasional. Sementara itu, kunjungan Garena menunjukkan bahwa pelaku industri semakin memperhatikan potensi game developer Malang. Kondisi ini juga membuka peluang kolaborasi yang lebih besar di masa mendatang.
