Komunitas Game Lokal

​Antusias Membludak: pendaftaran Global Game Jam Malang 2026 Tutup lebih dini.

Lanang Agung

Jan 24, 2026 · 4 min read
gamedevmalang 1768199549 3808256302398012435 3158249076
gamedevmalang 1768199549 3808256302398012435 3158249076

MALANG — Malang kembali membuktikan diri sebagai barometer industri gim nasional yang tak boleh dipandang sebelah mata. Jauh sebelum sesi jamming 48 jam minggu depan, Global Game Jam (GGJ) Malang 2026 telah mencatatkan status “Sold Out”. Dari informasi yang kami terima ada kurang lebih 200 pendaftar dalam kurun 2 pekan.

Bagi penyelenggara, ini bukan sekadar angka partisipasi yang memecahkan rekor tahun sebelumnya. Di balik penuhnya kuota pendaftaran yang ditutup lebih awal pada 23 Januari ini, terdapat pergeseran demografi yang menarik, kebangkitan minat pada format permainan analog, serta transformasi radikal dalam manajemen acara untuk mengakomodasi ledakan talenta lokal.

Tombol Start Media berbincang secara eksklusif dengan Dany Muhammad, Ketua Pelaksana GGJ Malang 2026, dan Muhammad Ali Zulfikar selaku Ketua Divisi Acara, untuk membedah apa yang sebenarnya terjadi di balik layar persiapan acara akbar ini.

Bukan Sekadar Hype: Sinyal Kematangan Talenta

“Sold out” seringkali dianggap sebagai indikator keberhasilan pemasaran semata. Namun, bagi Dany Muhammad, fenomena ini dimaknai sebagai validasi pertumbuhan ekosistem.

“Acara GGJ sendiri sebenarnya baru mulai minggu depan. Untuk Senin besok masih fokus ke gathering dan sosialisasi. Tapi ternyata sudah sold out.”
— Dany Muhammad, Ketua Pelaksana

Yang lebih menarik adalah siapa yang mengisi slot-slot tersebut. Data panitia menunjukkan adanya pergeseran demografi yang signifikan. Jika tahun-tahun sebelumnya didominasi oleh pelajar sekolah, tahun ini mayoritas pendaftar adalah mahasiswa.

“Ini sinyal positif,” jelas Dany. “Apabila peserta mahasiswa tersebut adalah peserta yang tahun-tahun sebelumnya ikut sebagai pelajar, ini berarti mereka memang niat untuk masuk industri ini. Mereka bukan hanya anak muda yang sekedar penasaran ikut tapi kemudian menghilang setelah tahu realitas industrinya.”

Ini menandakan bahwa Malang sedang mengalami fase retensi talenta. Bibit-bibit yang dulu hanya sekadar “mencoba”, kini kembali dengan skill yang lebih matang dan komitmen karier yang lebih serius.

Kejutan dari Global Game Jam Malang 2026: Board Game Bangkit

Di tengah dominasi gim digital, GGJ Malang 2026 mencatat anomali yang menggembirakan: lonjakan peminat board game.

“Tahun lalu tidak ada tim yang membuat board game, sementara tahun ini ada sekitar 28 orang. Ini menarik,” ujar Dany.

Muhammad Ali Zulfikar, atau akrab disapa Ali, melihat ini sejalan dengan narasi inklusivitas yang dibangun Divisi Acara. GGJ bukan kompetisi teknis semata, melainkan ruang eksperimen. Dengan menekan nuansa kompetisi, peserta—bahkan yang berlatar belakang programmer—merasa bebas untuk menyeberang disiplin ilmu dan mencoba merancang mekanik permainan di atas kertas dan karton.

Siasat Teknis: Dari Presentasi ke Eksibisi

Dengan jumlah peserta yang membludak, tantangan terbesar panitia bukan lagi mencari peserta, melainkan mengelola mereka. Metode lama yang digunakan saat peserta masih sedikit tidak lagi relevan.

Ali mengungkapkan perubahan format yang paling radikal ada di sesi showcase.

“Dengan bertambahnya jumlah tim, metode presentasi diubah menjadi model pameran (exhibition) layaknya game developer showcase.”
— Muhammad Ali Zulfikar, Ketua Divisi Acara

Langkah ini diambil demi efisiensi dan apresiasi. Dalam format lama, presentasi satu per satu di depan panggung akan memakan waktu berjam-jam dan membosankan. Dengan format eksibisi, semua gim dapat dimainkan dan diapresiasi secara paralel.

🚀 Jaminan Anti-Jomblo
Ketakutan klasik peserta individu alias “jomblo” yang takut tidak mendapat tim juga telah dimitigasi. Ali menjamin mekanisme team building baru yang lebih terstruktur. “Panitia menjamin seluruh peserta akan mendapatkan tim pada hari H,” tegasnya.

Infrastruktur dan Realitas Hibrida

Bertempat di Malang Creative Center (MCC), kesiapan infrastruktur menjadi sorotan utama. Dany mengonfirmasi bahwa timnya telah mengamankan tiga ruangan sekaligus: ruang komputer, ruang kelas, dan ruang rapat, serta meminta pengelola gedung untuk meningkatkan bandwidth internet.

Namun, transparansi adalah kunci. Ali dan tim Divisi Acara tidak menutup mata terhadap risiko teknis. Mereka menerapkan sistem hibrida (hybrid) yang memperbolehkan peserta untuk tidak terus-menerus berada di venue.

“Peserta tidak wajib terus-menerus di venue; boleh mengerjakan dari kafe atau rumah asalkan komunikasi dengan tim tetap lancar,” ujar Ali. Bahkan, imbauan untuk membawa modem atau tethering pribadi disuarakan sebagai langkah mitigasi realistis.

Malang: Lumbung Talenta yang “Bocor”?

Di akhir wawancara, Dany menyampaikan refleksi tajam yang patut didengar oleh pemangku kebijakan. Fenomena membludaknya peserta GGJ setiap tahun adalah bukti bahwa supply talenta kreatif di Malang sangat melimpah. Namun, demand atau lapangan kerja lokal belum mampu menyerapnya.

“Banyak yang setelah lulus malah bergabung ke studio di kota seperti Jakarta, Bandung, atau Jogja,” ungkap Dany.

GGJ Malang 2026 bukan sekadar pesta para pembuat gim. Ini adalah etalase potensi ekonomi yang nyata. “Semoga pemerintah daerah lebih memperhatikan dan mendengarkan masukan dari para pelaku industri kreatif di kota ini, karena ini jelas peluang untuk meningkatkan pendapatan daerah,” tutup Dany.

#GameDev Malang #GGJ2026 #Global Game Jam Malang 2026

Lanang Agung

Contributing Writer

Lanang Agung adalah kreator digital, podcaster, dan digital strategist asal Malang yang dikenal dengan nama "lanangedan". Dengan pengalaman lebih dari satu dekade di bidang web development, desain, dan digital marketing, Lanang aktif membangun komunitas kreatif dan mengelola berbagai proyek di industri kreatif. Untuk lebih banyak insight dan karya kreatifnya, kunjungi lanangedan.my.id

Tinggalkan Balasan

Daily news, dev blogs, and stories from Game Developer straight to your inbox

Stay up to date with the latest gaming news and insights

Subscribe